Riset USU: Air Galon Tetap Aman Tanpa Luruhan BPA Meski Terpapar Matahari

Guru Besar Kimia Organik dari FMIPA USU, Prof Dr Juliati Tarigan, MSi (tengah) dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr dr Brama Ihsan Sazli SpPD-KEMD paparkan soal galon dengan kandungan BPA aman. (Istimewa/NET Medan)

Guru Besar Kimia Organik dari FMIPA USU, Prof Dr Juliati Tarigan, MSi (tengah) dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr dr Brama Ihsan Sazli SpPD-KEMD paparkan soal galon dengan kandungan BPA aman. (Istimewa/NET Medan)

NET Medan – Tim peneliti USU mengungkapkan keamanan air minum dalam kemasan galon berbahan polikarbonat yang mengandung Bisphenol-A (BPA) aman bagi masyarakat mengkonsumsinya.

Hal ini hasil penelitian tim dari Kelompok Studi Kimia Organik USU dan dipimpin oleh Prof. Dr. Juliati Tarigan, M.Si, Guru Besar Kimia Organik dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU).

“Penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada migrasi atau luruhan Bisphenol-A (BPA) ke dalam air minum. Bahkan setelah galon terpapar sinar matahari selama beberapa hari,” tutur Dr Juliati Tarigan dalam paparannya dan dialog di Medan, Kamis 6 Februari 2025.

Penelitian terbaru dari USU ini memberikan kepastian bahwa BPA tidak terdeteksi dalam air minum kemasan galon, meskipun terpapar sinar matahari dalam jangka waktu tertentu.

Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada luruhan atau migrasi BPA pada semua sampel pengujia. Baik dalam kondisi normal maupun yang terpapar sinar matahari selama lima hingga sepuluh hari.

Baca: Panen Tebu di Sumut, Menko Pangan Zulkifli Hasan Optimis Swasembada Gula 2027 Tercapai

Prof. Juliati menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi air minum kemasan galon berbahan polikarbonat karena penelitian ini telah membuktikan keamanannya.

Penelitian ini dengan menguji empat merek air minum dalam kemasan galon yang populer di Kota Medan. Terdiri dari dua merek nasional, yaitu AQUA dan Prima, serta dua merek lokal, yaitu Amoz dan Himudo.

Penelitian USU pastikan air minum kemasan galon mengandung BPA aman untuk dikonsumsi. (Istimewa/NET Medan)
Penelitian USU pastikan air minum kemasan galon mengandung BPA aman untuk dikonsumsi. (Istimewa/NET Medan)

Penelitian Sebut Air Minum Galon Aman Meski Terpapar Matahari

Sampel dari setiap merek diambil dari tiga titik distribusi berbeda, dengan kondisi penyimpanan yang beragam. Mulai tidak terpapar sinar matahari hingga terpapar sinar matahari selama 5 hingga 10 hari.

Pengujian dengan metode High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), sebuah instrumen canggih yang mampu mendeteksi BPA hingga level mikrogram per liter.

Untuk memastikan keakuratan, penelitian ini dengan metode triplo, yaitu dengan tiga kali pengujian pada setiap sampel. Hasil penelitian membuktikan bahwa tidak ada kandungan BPA yang terdeteksi dalam air galon, meskipun telah terpapar sinar matahari dalam jangka waktu tertentu.

Kekhawatiran masyarakat bahwa BPA dapat luruh ke dalam air minum akibat paparan panas matahari juga terbantahkan dalam penelitian ini. Prof. Juliati menjelaskan bahwa BPA memiliki titik leleh yang sangat tinggi, yaitu 159 derajat Celsius. Sementara itu, suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia hanya mencapai 38,5 derajat Celsius.

“Dengan demikian, tidak ada kemungkinan BPA berpindah dari kemasan ke air minum dalam kondisi penyimpanan normal,” ujarnya.

Baca: 2 Perusahaan Berminat Kelola Sampah Kota Medan Jadi Energi Listrik, Bobby Nasution: Kami Sering di PHP

Dari segi kesehatan, Dr. dr. Brama Ihsan Sazli, Sp.PD-KEMD, menjelaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat menyatakan bahwa BPA dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Seperti kanker, diabetes, atau obesitas.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan endokrinologi dari Fakultas Kedokteran USU itu juga menambahkan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk mengurai zat kimia yang masuk ke dalam tubuh.

Jika ada BPA yang terserap, hati akan mendetoksifikasi zat tersebut sebelum akhirnya keluar melalui urin dan feses.

“Oleh karena itu, klaim bahwa air minum dalam kemasan galon berbahan polikarbonat dapat memicu masalah kesehatan. Seperti gangguan metabolik, kanker, atau diabetes tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat,”jelasnya.

Sebagai penutup, Prof. Juliati menekankan pentingnya masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat dan berbasis penelitian ilmiah dalam menyikapi isu-isu kesehatan.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat dan meluruskan berbagai misinformasi terkait dampak BPA. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat tidak perlu khawatir dalam mengonsumsi air minum kemasan galon yang telah terbukti aman.

Read Previous

Kapolda Sumut Perintahkan Propam Selidiki Setoran Bandar Narkoba ke Polres Labuhanbatu

Read Next

Polisi Ditembak Saat Menangkap Bandar Narkoba di Deliserdang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *